Laman

Selasa, 12 Juni 2012

Empat Paradigma Penelitian Komunikasi (Chapter 1)


Penelitian sejatinya merupakan sebuah sarana untuk memperkaya dan memperluas struktur bangunan sebuah ilmu pengetahuan. Ya, tentu saja dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan ini kita tidak boleh melupakan landasan ilmu pengetahuan yang sudah sebelumnya dibangun oleh filsafat ilmu. Tidak semua topik, tema ataupun bentuk sains dapat dijadikan sebagai sebuah ilmu. Setidaknya ada empat syarat sebuah ilmu, yaitu (1) objektif, (2) metodis, (3) sistematis dan (4) universal. Syarat kedua memberikan celah bagi pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian. Dan komunikasi sudah memenuhi keempat syarat tersebut sehingga layak disebut sebagai Ilmu.
Dalam penelitian ilmu komunikasi terdapat empat paradigma yang memayungi, yaitu (1) Positivisme, (2) Post-Positivisme, (3) Konstruktivisme dan (4) Kritis. Keempat paradigma tersebut tentu saja memandang komunikasi dari sudut pandang yang berbeda. Maklum saja, namanya juga paradigma yang Ritzer (2005) sebut sebagai sebuah landasan awal subjek dalam sebuah ilmu. Lebih lanjut lagi, Ritzer (2005) menyebutkan bahwa paradigma haruslah memuat empat komponen, yaitu (1) Apa yang harus dipelajari, (2) Pertanyaan apa yang harus dilontarkan, (3) Bagaimana pertanyaan tersebut dilontarkan,  dan (4) Peraturan apa saja yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban-jawaban yang akan muncul.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai definisi paradigma karena sudah banyak literatur yang membahas paradigma. Topik yang akan coba saya kupas disini adalah empat paradigma dalam komunikasi, namun pembahasannya lebih difokuskan pada bagaimana keempat paradigma tersebut memayungi penelitian komunikasi.
Menurut paradigma positivisme, komunikasi merupakan sebuah proses linier atau proses sebab akibat yang mencerminkan upaya pengirim pesan untuk mengubah pengetahuan penerima pesan yang pasif (Ardianto, 2009). Paradigma ini memandang proses komunikasi ditentukan oleh pengirim (source-oriented). Berhasil atau tidaknya sebuah proses komunikasi bergantung pada upaya yang dilakukan oleh pengirim dalam mengemas pesan, menarik perhatian penerima ataupun mempelajari sifat dan karakteristik penerima untuk menentukan strategi penyampaian pesan.
Banyak model komunikasi linier yang dapat kita temukan. Misalnya saja Model Komunikasi Matematik dari Shanon dan Weaver, Model Komunikasi Retorik karya Aristoteles ataupun Model Who Says What to Whom In Which Channel With What Effect yang cukup terkenal, yang dilahirkan oleh Harold Lasswell. Kesemua model ini menggambarkan komunikasi sebagai proses pengiriman pesan. Istilah Transmission of Messages yang dicetuskan oleh John Fiske juga dapat digolongkan dalam paradigma ini.
Lalu apa implikasinya pada penelitian komunikasi? Sabar, sebelum masuk ke ranah penelitian ada baiknya saya gambarkan dulu sedikit penjelasan paradigma ini dalam memandang realitas –yang nantinya juga akan disisipkan pada penjelasan masing-masing paradigma. Positivist memandang realitas dikendalikan oleh hukum-hukum alam  dan mekanisme yang tidak dapat diubah (Denzin dan Lincoln, 2009). Hukum jika… maka… memainkan peran yang sangat sentral. Jika air dipanaskan maka akan mendidih, jika air diberi garam maka akan terasa asin, jika anak diberi tontotan kekerasan maka dia akan meniru adegan tersebut, jika seseorang menonton iklan maka dia akan membeli produk yang diiklankan dan jika maka yang lain.
Prinsip jika maka tersebut mengindikasikan ciri positivisme yang lain, yaitu alam dan kehidupan bukan lagi dipahami sebagai hasil campur tangan yang ilahiah atau berdasar prinsip-prinsip spekulasi, melainkan sebagai sesuatu yang pasti, nyata dan berguna (Ardianto, 2009).  Dan inilah yang banyak mewarnai karakteristik penelitian di bidang positivisme. Jarak antara peneliti dan objek penelitian merupakan ciri khas yang melekat pada penelitian di bidang ini. Keterpisahan keduanya merupakan jaminan akan objektivitas hasil penelitian. Dan penelitian pada mazhab ini dikenal dengan nama kuantitatif.
Misalnya saja ketika ada penelitian berjudul pengaruh strategi penokohan pada iklan sepeda motor terhadap minat beli masyarakat. Strategi penokohan yang dimaksud merupakan keterlibatan tokoh-tokoh sepeda motor kelas dunia yang menjadi brand ambassador produk sepeda motor. Honda dan Yamaha menggunakan strategi ini pada tahun 2010 - 2011 kemarin. Yamaha menunjuk Valentino Rossi sebagai duta produk. Rossi muncul dalam iklan produk Yamaha Jupiter MX dan Casey Stoner menjadi bintang iklan Honda CBR 250R. Keduanya merupakan pembalap MotoGP yang merupakan ajang balap sepeda motor dengan kasta tertinggi. Rossi berkali kali menjadi juara dunia, dan kiprah Stoner di MotoGP pun sangat mengagumkan. Peneliti tertarik untuk  mengetahui pengaruh strategi tersebut terhadap minat beli masyarakat.
Pada saat meneliti, kuesioner merupakan senjata utama dalam pengumpulan data. Pada saat mengisi kuesioner, diasumsikan, responden mengisi sesuai dengan apa yang mereka yakini. Misalnya saja, pada saat muncul pertanyaan “Setelah menyaksikan iklan Yamaha Jupiter MX yang dibintangi Valentino Rossi, muncul ketertarikan untuk membeli produk tersebut”, dan responden memilih jawaban “Ya”. Jawaban tersebut, dan puluhan jawaban lainnya merupakan hasil pilihan responden tanpa ada campur tangan peneliti. Kesemua jawaban responden merupakan data yang akan diolah dan melahirkan hasil penelitian. Hasil penelitian dapat berupa pernyataan “Strategi penokohan berpengaruh besar terhadap minat beli masyarakat”.
Hasil penelitian tersebut dipercaya bersifat objektif, bebas nilai. Nilai-nilai yang melekat pada diri peneliti tidak ikut campur dalam proses kelahiran hasil penelitian. Apa yang menjadi hasil penelitian merupakan hasil murni pengolahan data yang didapat dari pernyataan responden, tanpa paksaan. Menyikapi objektivitas ini, ada pernyataan Denzin dan Lincoln (2009) yang saya suka, suara ilmuwan positisme ( dan post-positivisme) adalah suara “ilmuwan tak memihak” yang memberi masukan bagi para pengambil keputusan, pembuat kebijakan dan pelaku perubahan.
Menjelaskan, yang pada akhirnya memungkinkan untuk memprediksi dan mengendalikan fenomena (Denzin dan Lincoln, 2009) merupakan tujuan penelitian positivisme. Ilmuwan diposisikan sebagai “ahli” yang dapat melakukan analisa terhadap proses komunikasi yang sedang berlangsung. Ingat, pada mazhab ini komunikasi dipandang sebagai sesuatu yang linier dan mekanistis. Ada permulaan, proses kemudian akhir. Dan penelitian dilakukan untuk menganalisa apakah proses tersebut sudah berjalan ideal. Jika tidak, akan ketahuan dimana letak permasalahan dan perbaiki.
Paradigma kedua, post-positivisme, tidak jauh berbeda dengan positivisme yaitu penelitian bertujuan menjelaskan, prediksi dan kontrol, bebas nilai dan ilmuwan yang tidak berpihak. Hanya saja terjadi perdebatan pada sifat ilmu pengetahuan. Pada positivisme berlaku aturan verifikasi, yang berarti bahwa dimanapun dan kapanpun teori tersebut diuji maka hasilnya akan sama. Oleh karena itu, penelitian positivisme juga disebut sebagai penelitian yang menguji teori –dan seringkali teori tidak dapat dibantah kesahihan atau kebenarannya. Kalaupun ada penelitian dengan topik dan teori yang sama, maka penelitian kedua hanyalah bersifat verifikasi.
Namun, pada post-positivisme yang berlaku bukan verifikasi melainkan falsifikasi. Sebuah pengetahuan merupakan terdiri atas berbagai hipotesis yang dapat digugurkan dan dapat dipandang sebagai fakta atau hukum yang mungkin (Denzin dan Lincoln, 2009). Sebuah teori diasumsikan sebagai sesuatu yang salah, dan kemudian dilakukan penelitian berulang kali untuk membuktikan ketahanan teori tersebut. Teori yang benar-benar kuatlah yang terselamatkan. Maka tak heran muncul teori-teori tandingan yang lahir dari penelitian mazhab ini. Misalnya teori yang menganggap audiens pasif (agenda setting, SOR dan Bullet theory) harus mendapat pesaing seperti teori Uses and Gratification.

Bahan Bacaan:
Ardianto, Elvinaro dan Q-Anees, Bambang. 2009. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Denzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ritzer, George (ed.). 2005. Encyclopedia of Social Theory: Volume II. California: Sage Publication

1 komentar: