Halaman

Senin, 14 Mei 2012

Studi Kasus Sebagai Sebuah Desain Penelitian Kualitatif


Denscombe (2007) menyatakan bahwa studi kasus fokus pada satu (atau beberapa) contoh dari fenomena tertentu dengan maksud untuk melakukan penelahaan mendalam tentang sebuah peristiwa, hubungan, pengalaman ataupun proses yang terjadi dalam kasus tersebut. Lebih lanjut lagi, Denscombe memaparkan lima karakteristik studi kasus yang antara lain : (1) Menyorot satu peristiwa, (2) Penelaahan mendalam, (3) Fokus kepada hubungan antar aspek kasus dan proses, (4) Setting alamiah, dan (5) Penggunaan beberapa sumber serta metode.
Sebagai satu metode yang digunakan untuk menelaah peristiwa secara mendalam, studi kasus memang haruslah menyorot satu peristiwa yang menjadi kajian utama. Karakteristik berikutnya adalah penelaahan mendalam.Ini merupakan ciri khas studi kasus secara umum.Pendalaman pemahaman penulis terhadap kasus merupakan instrumen kunci pada studi kasus.Berkaitan dengan karakteristik selanjutnya, penelahaan tersebut dapat dilakukan dengan mencoba memecah kasus kedalam beberapa aspek yang kemudian dicari kaitannya. Pemahaman penulis akan kronologis terjadinya kasus juga menentukan kedalaman studi yang dilakukan.
Setting alamiah merupakan karakteristik dari semua penulisan kualitatif. Ini berarti penulis tidak akan memanipulasi objek studi (kasus). Penulis hanya akan bertindak sebagai penonton tatkala kasus yang dipelajari sedang terjadi. Dan untuk memperkuat keabsahan data, karakteristik yang terakhir merupakan acuan utama yaitu adanya variasi dalam pemerolehan data.
Tidak semua fenomena dapat dikategorikan sebagai kasus. Louis Smith (dalam Denzin dan Lincoln: 2009) memberi definisi yang yang cukup jelas bagi sebuah kasus, yaitu “sistem yang terbatas” (a bounded system). Dalam ilmu-ilmu sosial dan layanan kemanusiaan, kasus memiliki bagian-bagian operasional, bisa jadi bertujuan dan bahkan memiliki jiwa. Kasus adalah sebuah sistem yang padu. Bagian-bagian tidak harus beroperasi dengan baik, tujuan bisa jadi irasional, namun itu tetaplah sebuah sistem.
Mengenai batasan sistem ini pun Denscombe menyatakan dengan jelas, bahwa studi kasus harus memiliki batasan pembeda yang jelas (distinct boundaries). Batasan tersebut sangat berguna untuk membedakan satu kasus dengan kasus yang lain. Batasan  tersebut juga berguna sebagai pembatas kajian suatu penulisan. Dengan memberikan batasan, maka penulis akan tertolong untuk menjaga penulisan agar tetap fokus.
Ardianto (2010) mendefinisikan studi kasus sebagai pendekatan dalam penulisan yang menelaah suatu kasus secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif. Definisi tersebut bermakna bahwa penulis studi kasus merupakan orang yang paham mengenai kasus yang sedang diteliti. Pemahaman mendalam mengenai kasus dapat diperoleh melalui berbagai sumber: media massa, individu yang telibat dalam kasus ataupun lembaga / organisasi.
Pembelajaran melalui media massa dapat dilakukan dengan memantau pemberitaan mengenai isu kasus. Penulis dapat membaca surat kabar –kemudian mengkliping ataupun membuka situs internet berita. Dari pemantauan tersebut penulis berupaya mempelajari kronologis terjadinya kasus serta berbagai aspek yang saling berkaitan.
Pemahaman mengenai kasus juga dapat diperoleh dengan berinteraksi secara intensif dengan orang-orang yang terlibat dalam suatu kasus. Apabila kasus tersebut melibatkan sebuah organisasi / lembaga, maka informasi mengenai kasus dapat diperoleh dengan mewawancarai karyawan.
Studi kasus dapat dikategorikan kedalam tiga jenis, yaitu deskripsi, eksplorasi dan perbandingan (Denscombe: 2007). Jenis pertama hanyalah menggambarkan apa peristiwa apa saja yang terjadi pada saat suatu kasus berlangsung. Penjabaran kasus dapat dilakukan dengan menceritakan kronologis kasus; apa faktor pemicu, apa/siapa yang menjadi korban dalam kasus, kerugian apa yang diderita oleh lembaga/komunitas/individu serta apa yang dilakukan untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Jenis kedua memaksa penulis untuk bekerja lebih keras lagi. Laporan penulisan yang dibuat diharapkan tidak hanya  menggambarkan kasus dari permukaan. Penulis harus menyelam lebih dalam lagi pada beberapa isu penting dalam kasus. Dalam penulisan ini, pendekatan eksplorasi ini coba penulis gunakan. Laporan penulisan yang dibuat diharapkan lebih dari sekedar menggambarkan kasus dari permukaan.
Jenis ketiga membutuhkan dua kasus serupa untuk diteliti. Misalnya saja untuk isu pemogokan karyawan. Selain pemogokan karyawan yang terjadi di Freeport penulis harus mencari kasus yang serupa. Misalnya saja kasus pemogokan Freeport dibandingkan dengan kasus pemogokan pada PT. Suzuki Indomobil Motor yang memiliki karakteristik sama, yaitu penuntutan kenaikan upah.
Lain lagi dengan Denzin dan Lincoln (2009) yang membagi studi kasus kedalam tiga jenis, yaitu:
1)      Studi kasus intrinsik. Jenis ini ditempuh oleh penulis yang ingin lebih memahami sebuah kasus tertentu. Jenis ini ditempuh bukan karena suatu kasus mewakili kasus-kasus lain atau karena menggambarkan sifat atau permasalahan tertentu, namun karena, dalam seluruh aspek kekhususan dan kesederhanaannya, kasus itu sendiri menarik minat.
2)      Studi kasus instrumental. Jenis ini digunakan untuk meneliti suatu kasus tertentu agar tersaji sebuah perspektif tentang isu atau perbaikan suatu teori. Dalam hal ini, kasus tidak menjadi minat utama; kasus memainkan peranan suportif, yang memudahkan pemahaman kita tentang sesuatu yang lain. Dalam hal ini, kasus seringkali dicermati secara mendalam, konteksnya dikaji secara menyeluruh dan aktivitas kesehariannya diperinci. Suatu kasus  bisa dipandang sebagai sebuah gambaran tipikal bagi kasus-kasus lain. Pemilihan sebuah kasus lebih disebabkan karena hasrat kita untuk meningkatkan pemahaman tentang minat yang lain.
3)      Studi kasus kolektif. Jenis ini dapat dilakukan pada saat penulis lebih tertarik untuk mengkaji sejumlah kasus secara bersamaan agar fenomena, populasi atau kondisi umum dapat terbongkar.

Bahan Bacaan:
Ardianto, Elvinaro. 2010. Metodologi Penelitian untuk Public Relations: Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Denscombe, Martin. A Good Research Guide : for Small Scale Social Research Projects. Edisi Ketiga. London : McGraw Hill
Denzin, Norman dan Lincoln, Yvonna. 2009. Handbook of Qualitative Reasearch. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Senin, 09 April 2012

Komunikasi : Transmission of messages and Production and exchange meanings


Apa itu komunikasi? Pertanyaan yang sangat menantang bagi kita semua, karena akan memunculkan jawaban yang tidak berujung. Berdiskusi dengan teman seputar kenaikan harga BBM, obrolan warung kopi tentang lagu baru Ayu Ting Ting (Sik Asik), menggoda gadis cantik kembang desa, rapat paripurna DPR, melamun, gaya berpakaian, gaya rambut, menonton televisi, menulis laporan tahunan, ceramah solat jumat, menangis dan masih banyak lagi fenomena komunikasi yang sanggup saya tulis. Bermula dari pertanyaan sederhana itu pun muncul ratusan definisi komunikasi. Berikut ini berbagai definisi komunikasi yang saya dapat dari Wikipedia[1]:
1.    Komunikasi adalah proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons/ makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator. (Raymond Ross)
2.    Komunikasi terjadi saat satu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan niat sadar untuk memengaruhi perilaku mereka. (Gerrard Miller)
3.    Komunikasi adalah proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. (Everret M. Rogers)
4.    Komunikasi adalah suatu proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan (biasanya dengan menggunakan lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain. (Carl Hovland)
5.    Komunikasi adalah transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari sumber kepada penerima. (Newcomb)
6.    Komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb. (Bernard Barelson and Gary Steiner)
Kesemua definisi tersebut menggambarkan komunikasi sebagai sebuah proses penyampaian pesan (transmission messages). Sudut pandang ini lebih memusatkan perhatian pada tahapan penyampaian pesan. Bagaimana pengirim (source) mengirimkan pesan, media apa yang digunakan, seberapa besar gangguan yang diterima, serta kapasitas penerimaan pesan penerima (destination/receiver). Model paling mudah untuk membantu pemahaman kita mengenai komunikasi sebagai penyampaian pesan adalah model dari Harold Lasswell “Who Says what To whom In which channel With what effect?”
Selain penyampaian pesan, terdapat sudut pandang komunikasi yang lain yaitu produksi dan pertukaran makan (production and exchange meanings). Sudut pandang yang satu ini lebih memusatkan studi komunikasi pada cara bagaimana pesan (teks) berinteraksi dengan manusia untuk menciptakan makna (pembentukan makna)[2]. Mulyana (2001: 256) mengutip pendapat R. Brown, menjelaskan bahwa makna sebagai sebuah kecenderungan (disposisi) total untuk menggunakan atau bereaksi terhadap suatu bentuk bahasa. Terdapat banyak komponen dalam makna yang dibangkitkan suatu kata atau kalimat. Selanjutnya Mulyana (2001: 256) menyatakan bahwa, makna muncul dari hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dan manusia. Makna tidak melekat pada kata-kata namun kata-kata membangkitkan makna dalam pikiran  orang. Jadi, tidak ada hubungan langsung antara suatu objek dan simbol yang digunakan untuk mempresentasikannya.[3]
Ruang lingkup kajian ini adalah teks (pesan komunikasi) dan budaya. Teks mengacu pada semua pesan yang disampaikan. Bisa berupa tulisan, gambar, adegan dalam film/sinetron/ iklan, warna ataupun suara. Budaya merupakan modal dasar bagi suatu masyarakat sipil memaknai pesan tersebut.
Budaya disini tidak hanya mengacu pada entitas sebuah etnik budaya (suku, ras) tetapi lebih merujuk kepada some shared attributes to human groups[4]. Jika kita mengambil contoh masyarakat Baduy sebagai contoh masyarakat sipil, maka budaya masyarakat tersebut tidak hanya mengacu pada pakaian atau bentuk rumah tetapi lebih kepada satu set pemikiran yang mereka bagi bersama. Pemikiran yang mereka bagi tersebut kemudian digunakan untuk memproduksi norma, nilai, kepercayaan serta pandangan mereka terhadap dunia. Kesederhanaan, ketaatan pada ketua adat serta rasa kasih sayang terhadap alam merupakan atribut yang mereka bagi bersama. Dari seperangkat pemikirian tersebut, maka ponsel pintar (smartphone) Android[5], Samsung Galaxy Tab 7.7, Blackberry Onyx akan dimaknai sebagai sesuatu yang ”haram” untuk digunakan (bagi baduy dalam).
 Berbeda dengan kebanyakan masyarakat modern yang justru memaknai benda-benda elektronik tersebut sebagai identitas. Bukan rahasia lagi jika Blackberry saat ini sudah menjadi merek generik telepon seluler. Rasanya seperti ditancapkan anak panah beracun yang akan mematikan syaraf anda dalam waktu beberapa detik ketika diminta bertukar PIN BB sementara ponsel yang anda gunakan gunakan bukan Blackberry. Dan disinilah komunikasi berlangsung. Mereka mengkomunikasikan identitas mereka melalui kepemilikan gadget tersebut.
Kedua sudut pandang tersebut sangat memiliki perbedaan yang cukup mencolok dalam memandang audiens (receiver/destination). Pada sudut pandang pertama, audiens dinilai pasif. Proses komunikasi hanya akan berlangsung apabila source berniat untuk mengkomunikasikan sesuatu. Tanpa ada niat, proses komunikasi tidak akan berjalan. Setelah niat muncul, media dipilih, barulah audiens berperan dalam penerimaan pesan.
Sudut pandang kedua justru sebaliknya. Proses komunikasi baru akan berlangsung ketika penerima aktif membentuk makna dari pesan yang disampaikan. Proses “pembacaan” pesan inilah yang dimaksud makna tidak melekat pada kata-kata melainkan pada pikiran manusia. Pengalaman dan konteks budaya dimana audiens hidup sangat mempengaruhi proses pembentukan makna.
Itu artinya pesan akan dimaknai berbeda oleh masing-masing golongan masyarakat ataupun individu. Misalnya saja berita di Kompas.com yang bertajuk RIM bantah Blackberry sedang tenggelam. Bagi RIM berita ini akan dimaknai sebagai upaya mempertahankan eksistensi mereka terhadap gempuran para kompetitor yang giat melakukan manuver pemasaran. Bagi pengguna Blackberry berita ini tentu merupakan angin segar. Data meningkatnya jumlah pengunduh aplikasi Blackberry tentu akan menjadi nilai tersendiri bagi pengguna BB (Blackberry). Tapi mungkin para kompetitor BB akan memaknai pesan ini secara berbeda. Mereka akan beranggapan bahwa berita ini justru sebagai indikator kekhawatiran RIM pada gerak-gerik kompetitor yang semakin mengancam. 
Bagaimana dengan anda, pernahkan anda memaknai sebuah pesan komunikasi secara berbeda dengan sahabat anda? Jika pernah, berarti terdapat satu sisi "budaya" yang berbeda antara anda dengan teman anda tersebut.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_definisi_komunikasi
[2] Fiske, John. 1990. Introduction to Communication Studies: 2nd edition. London: Routledge
[3] http://atwarbajari.wordpress.com/tag/pembentukan-makna/
[4] Carey dalam McQuail, 2011

Selasa, 03 April 2012

Berbagai Definisi Framing

Ide tentang framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1955. Frame pada awalnya dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana, dan yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman (1974) yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behaviour) yang membimbing individu dalam membaca realitas.

Peneliti yang paling konsisten mendiskusikan dan mengimplementasikan konsep framing adalah Willian A. Gamson. Gamson terkenal dengan pendekatan konstruksionisnya untuk menganalisis wacana komunikasi. Menurut Gamson dan Modigliani, frame adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana. 
 
Selain Gamson dan Modigliani, berkaitan dengan dilihatnya framing sebagai proses seleksi dan penonjolan aspek tertentu dari realitas oleh media, Robert M. Entman lebih lanjut mendefinisikan framing sebagai seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa itu lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi. Dalam banyak hal itu berarti menyajikan secara khusus definisi terhadap masalah, interpretasi sebab akibat, evaluasi moral, dan tawaran penyelesaian sebagaimana masalah itu digambarkan.
Ada beberapa tokoh yang memberikan definisi framing. Beberapa definisi para ahli tersebut adalah sebagai berikut:

Robert N. Entman  
Proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Ia juga menyertakan penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada sisi yang lain.    

William A. Gamson  
Cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana. Cara bercerita itu terbentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ia sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan-pesan yang ia terima.    

Todd Gitlin  
Strategi bagaimana realitas/dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca. Peristiwa-peristiwa ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca.itu dilakukan dengan seleksi, pengulangan, penekanan, dan presentasi aspek tertentu dari realitas.    

David E. Snow and Robert Benfort  

Pemberian makna untuk menafsirkan peristiwa dan kondisi yang relevan. Frame mengorganisasikan sistem kepercayaan dan diwujudkan dalam kata kunci tertentu, anak kalimat, citra tertentu, sumber informasi, dan kalimat tertentu.    

Amy Binder  
Skema interpretasi yang digunakan oleh individu untuk menempatkan, menafsirkan, mengidentifikasi, dan melabeli peristiwa secara langsung atau tidak langsung. Frame mengorganisir peristiwa yang kompleks ke dalam bentuk dan pola yang mudah dipahami dan membantu individu untuk mengerti makna peristiwa.    

Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki
Strategi konstruksi dan memproses berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita.    

Kamis, 02 Februari 2012

New Media: Bentuk Komunikasi Massa atau Bukan?

New Media (Media Baru) merupakan pengejawantahan dari bentuk teknologi internet yang saat ini sedang booming di masyarakat. Internet pada awalnya tidak ditujukan untuk keperluan publik. Departamen Pertahanan Amerika Serikat membentuk satu jaringan komputer khusus agar dapat berkomunikasi dengan para ilmuwan mereka di laboratorium. Maka terbentuklah satu jaringan komputer yang dapat membuka jalur informasi yang lebih cepat dan mudah diantara keduanya.

Sejak internet dikomersialisasikan, sambutan masyarakat sangat hangat -bahkan bukan lagi hangat, tapi panas!-. Tentu kita ingat, sekitar pertengahan tahun 1990an sampai awal tahun 2000 warung internet mulai menjamur. Hampir di setiap tempat ada. Dan pengguna warung ini pun cukup banyak. Pada saat itu, jarang sekali kita temukan warung internet yang sepi pengunjung. Apalagi pada jam pulang sekolah, puluhan anak sekolah berseragam melepas penat setelah seharian belajar di warung internet (warnet).

Internet ini kemudian menjadi bahan kajian ilmu komunikasi (komunikasi massa). Namun, internet masih belum dapat dikategorikan sebagai salah satu media massa. Alih-alih, para pakar menyebutnya dengan New Media (media baru). Kenapa harus media baru? Kalau nanti akan ada teknologi yang lebih canggih dari internet, apakah kita akan menyebutnya sebagai Media Lebih Baru? Tapi bukan itu yang ingin saya tekankan.

Sebenarnya posisi internet dalam komunikasi massa pun sedikit menjadi perdebatan. Karena Luders (2008) mengatakan bahwa internet sebenarnya bisa dikategorikan sebagai media dalam komunikasi antarpersonal. Luders menulis "Distinctions between personal media and mass media may be outlined as differences in the type of involvement required from users. Personal media are more symmetrical and require users to perform actively as both receivers and producers of messages"


Peyton Paxson sangat rajin dalam merambah dunia maya. Bahkan Paxson pun telah memberikan sebuah pemetaan yang cukup komplit. berikut ini adalah pemetaan / pengelompokkan situs internet dari Paxson (2010):
 Cukup lengkap, namun nampaknya Paxson lupa menambahkan email. Situs-situs yang menyediakan email gratis cukup banyak. Gmail, Yahoo! dan banyak lainnya.

Dominick (200) memberikan beberapa kriteria media, antara lain:

  1. Terlembaga dan membutuhkan modal. Produksi kandungan media melibatkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Misalnya saja untuk menjalankan satu program berita televisi Anda harus memikirkan berbagai macam properti studio (kamera, lampu, transmitter, micrphone dls), honor pengisi acara (news anchor, reporter lapangan, kamerawan, produser dls) belum lagi biaya lainnya. Untuk mengorganisasi kegiatan "rumit" media massa, keterlembagaan tentu akan membantu mempermudah. Dimulai dari Pemimpin redaksi, produser, pembaca berita, kru studio sampai kepada kru lapangan bekerja dalam satu institusi media formal. Konsekuensi dari lembaga biasanya akan memunculkan hirarki tersendiri. Akan terdapat Top Management, Middle sampai kepada Lower.
  2. Gatekeeper. Gatekeeper adalah seseorang ataupun kelompok yang mengendalikan segala macam kandungan media yang akan disampaikan kepada publik. Seorang wartawan koran mendapatkan berita mengenai bus Maju Jaya yang terperosok ke dalam jurang di kawasan Sumedang. Wartawan tersebut langsung mengirimkan berita kepada kantor redaksi melalui email. Berita tersebut dikumpulkan dengan beberapa berita lainnya untuk dibahas di dalam rapat redaksi. Rapat redaksi betujuan untuk menentukan berita mana saja yang akan dimuat esok hari, mana yang akan menjadi Headline, berita sisipan, gosip artis siapa yang akan dimunculkan dan segala hal lainnya. Dari contoh tersebut orang-orang yang terlibat di dalam rapat redaksi berperan sebagai gatekeeper. Semakin besar organisasi media, dapat memungkinkan jumlah Gatekeeper yang lebih dari satu.
  3. Mencari keuntungan. Kalo sudah terlembaga dan bertitel industri, tujuan utamanya pasti mencari keuntungan. Ongkos produksi yang bisa bernilai puluhan Milliar dalam satu bulan itu tentu diharapkan akan berbuah keuntungan. Cara yang biasa media lakukan untuk meraup keuntungan adalah melalui iklan. Biasanya, dalam televisi, program yang tayang pada waktu primer (sekitar jam 19.00 sampe 21.00) sangat laris diburu oleh para pengiklan. Apalagi kalo acara itu merupakan acara favorit dengan rating tinggi. Misalnya saja Opera Van Java yang tayang di Trans7. Saya yakin, space pada OVJ ini sangat diburu. Dan tentu saja pihak Trans7 berhak menentukan tarif berbeda yang tentunya lebih tinggi untuk meraup keuntungan yang lebih banyak. Surat kabar, majalah, radio pun sama. Mereka selalu menyediakan tempat untuk para pengiklan.
Kira-kira beragam situs internet mengandung tiga unsur itu tidak ya...... hmmm... that's your job to answer this question

Kamis, 26 Januari 2012

Pilpres 2014 dan Kritikan Pedas MetroTV

Sentilan Sentilan episode 16 Januari 2012 pukul 22.30 WIB mengangkat WC 2 Milyar DPR sebagai tema mereka. Dua orang pemeran utama, Butet Kertarajasa sebagai pembantu dan Slamet Raharjo sebagai 'ndoro' majikan. Ditemani oleh dua bintang tamu, Arswendo Atmowiloto sebagai anggota DPR-RI gadungan dan Mucle sebagai pakar pembuat WC. Kritik yang dibalut dengan humor memang merupakan bumbu utama dari acara ini. Misalnya saja Butet yang berjenaka dengan mengatakan bahwa WC 2Milyar ini nantinya akan menjadi WC Nasional, mengikuti demam Esemka yang diplot akan menjadi Mobil Nasional. Dia bilang nantinya DPR-RI akan memasyarakatkan WC dan mem-WC-kan masyarakat. Dan banyak lagi lontarak kritik dari para pengisi acara.

Sentilan Sentilun merupakan satu dari sekian banyak acara MetroTV yang bernuansa sama, yaitu kritikan terhadap kinerja pemerintah sekarang. Kerapkali kritikan yang mereka lontarkan pun cukup pedas dan vulgar. Contoh nyatanya yang pada kutipan acara Sentilan Sentilun diatas. Editorial Media Indonesia pun memiliki nuansa sama. Acara yang biasa dipandu oleh Aviani Malik dan Cheryl Tanzil ini biasanya akan membahas satu isu tertentu untuk kemudian dikritik. Sebelum mulai, biasanya akan diputar satu video klip mengenai isu yang akan dibahas. (You can watch one video by click this text). Video ini diputar dengan narator yang atraktif. Entah deskripsi seperti apa yang cukup untuk mengganti kata atraktif. Yang pasti gaya bicara, intonasi, kecepatan suara, kosakata dan tata bahasa cukup unik. Acara ini juga membuka interaksi langsung dengan audiens yaitu melalui line telepon dan SMS. Biasanya SMS yang masuk akan ditampilkan pada layar. Dan SMS-SMS tersebut pun tidak lain dan tidak bukan, mengkritik kinerja pemerintah. Beberapa isu yang diangkat adalah Rosa (Mindo Rosalina Manulang) Menyingkap Tabir (17 Jan 2012), Negeri AutoPilot (16 Jan 2012), Ancaman Untuk Rosa (14 Jan 2012) dan Ruang Rapat Banggar DPR (13 Jan 2012). Acara lainnya adalah Provocative Proactive yang mengincar anak muda sebagai segmentasi.

Berbagai macam kritik yang dilontarkan MetroTV setidaknya sesuai dengan fungsi media massa dari Harold Lasswell, yaitu surveillance, interpretation and linkage. Industri Media berperan sebagai kamera pengintai bagi kinerja pemerintah yang kemudian dipersembahkan melalui media sebagai hasil interpretasi mereka. Namun tidak hanya itu, dari fenomena MetroTV ini kita dapat melihat peran Hegemony media. Metro TV berupaya menanamkan kerangka berpikir tertentu kepada audiens mereka. Kritik, kritik dan kritik. Mungkin itulah ideologi yang coba mereka sampaikan. Pagi hari, ketika anda menonton MetroTV, acara Editorial Media Indonesia sudah menanti. Disusul dengan Eight to Eleven Show. Sore hari anda akan disuguhkan acara Metro Realitas, Metro Hari Ini, sampai pada Suara Anda.

 Geliat MetroTV dalam mengkritik pemerintah ini tentu tidak terlepas dari owner mereka yaitu Surya Dharma Paloh. Manta politisi partai Golkar ini merupakan pemilik Media Group yang menaungi 3 media massa, yaitu Metro TV, Media Indonesia dan Lampung Post. Gerak-gerik Surya Paloh di industri media memang sudah cukup lama. Sempat mendirikan Harian Prioritas yang akhirnya SIUPP-nya dicabut oleh pemerintah karena alasan melanggar kode etik jurnalistik. Sampai akhirnya pada tahun 2000 mendirikan MetroTV.

Memposisikan diri sebagai pemilik, tentu ada keunggulan tersendiri. Posisi pemilik berada diatas semua jajaran direksi serta editorial. Sebagai bagian dari kelompok oposisi dari pemerintah yang berjalan sekarang (SBY-Boediono) tentu Surya Paloh memiliki 'gereget' tersendiri terhadap kinerja pemerintah. Dan seakan-akan MetroTV dirasuki oleh ruh Surya Paloh.

Tapi, belakangan ini Sang Pemilik memiliki kesibukan lain yang nampaknya cukup menyita waktu. YA, saat ini Surya Paloh sedang sibuk dengan Partai Nasional Demokrat. Partai yang belum lama berdiri ini, megusung Gerakan Perubahan sebagai tagline. Iklan-iklan yang muncul di televisi pun selalu bertemakan perubahan. Apakah pendirian partai ini berkaitan dengan Pilpres 2014? hmm... let see.

Pilpres 2009 lalu, nama Surya Paloh ini memang tidak termasuk dalam 3 pasangan capres-cawapres. Surya Paloh dikalahkan oleh Jusuf Kalla sebagai perwakilan Golkar yang berpasangan dengan Wiranto. Nampaknya ada sedikit rasa sakit hati dari pahitnya masa lalu yang kelam. Dan pilpres 2014 menjadi ajang pembuktian Paloh dikancah politik negeri ini. Bukan suatu hal yang baru kalo pendiri, ketua umum atau petinggi partai kemudian maju atau dicalonkan sebagai Calon Presiden. SBY, yang memotori pendirian Partai Demokrat. Jusuf Kalla, ketua umum Golkar dan Capres 2009. Wiranto, -meskipun sedikit nekat- berpasangan dengan Jusuf Kalla. Megawati dan Prabowo pun keduanya petinggi parta (PDIP dan Gerindra).

Seandainya Surya Paloh maju sebagai Capres atau Cawapres 2014 nanti, apakah pola kritikan MetroTV akan berubah? atau katakanlah Surya Paloh terpilih menjadi presiden 2014-2019 nanti, apakah MetroTV mengkritik pemerintah sang bos besar? Belum lagi, ada nama Hary Tanoesoedibjo - pemilik MNC Group- yang notabene telah menjadi raja media tanah air.

Fenomena ini semakin menarik untuk disimak. Nampaknya akan terjadi beberapa peristiwa unik terkait media ownership. "Form of ownership inevitably has an influence on content" (McQuail, 2010 hal. 228). Bentuk kepemilikan media akan mempengaruhi kandungan pesan media. Itu memang sudah tejadi. Berita mengenai kegiatan Partai Nasdem (yang bagus-bagus) sering dimuat di MetroTV, berita mengenai Partai Golkar (juga yang bagus-bagus) sering disiarkan di TVOne.

Huh... sangat tidak kalo nanti MetroTV yang terkenal "kejam", lantas menjadi "lembek". Saya harap, MetroTV tetap profesional dan tidak mengubah "core" bisnis mereka, kritik pemerintah.











Rabu, 11 Januari 2012

Dari Guttenberg Sampai Zuckerberg

Tahun 1455 merupakan titik perubahan era komunikasi. Pada tahun ini Gutenberg telah berhasil menciptakan sebuah alat yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya, yaitu alat cetak -meskipun masih terjadi perdebatan karena mesin serupa telah ditemukan di Cina 600 tahun sebelumnya-. Penciptaan alat cetak ini tentu saja menjadi sebuah fenomena tersendiri.  Gutenberg tidak hanya berhasil menciptakan mesin cetak, dia juga telah berhasil menciptakan sebuah pola pikir baru tentang buku (ataupun media cetak lainnya). Pada zaman itu belum tercipta suatu media yang dapat menjadi penyebar informasi kepada khalayak dalam jumlah yang banyak. Budaya lisan pada zaman itu sangatlah kental. Pesan-pesan seringkali -dan memang hanya- disampaikan melalui lisan. Maka terciptalah cerita-cerita rakyat, mitos, dongeng, puisi, lagu dls.

Sebelumnya, buku merupakan sebuah benda yang teramat mahal dan hanya beberapa gelintir orang saja yang mampu membeli. Bayangkan saja, sebelum terciptanya mesin cetak (movable printer) oleh Gutenberg Anda harus menyalin sebuah buku dengan tulisan tangan. Saya tidak habis pikir, bagaimana dengan buku-buku teks kuliah yang tebalnya bisa mencapai 300-400 halaman!! Revolusi pun dimulai. Dengan bantuan mesin cetak Gutenberg proses produksi buku menjadi lebih cepat, mudah dan tentunya murah. Buku pertama yang dicetak oleh mesin ini adalah Injil.  

Budaya tulisan pun dimulai. Tidak hanya buku yang berkembang, tapi industri surat kabar pun mulai bermunculuan. Aeropagetica (1644), Publick Occureness (1690), New York Sun (1833), Kompas, Pikiran Rakyat, Lampu Merah, Pos Kota dan ribuan atau bahkan jutaan nama surat kabar bermunculan. Kemudian penemuan telepon dan telegraph oleh Bell dan Morse (pada akhir 1900an) juga telah menciptakan era komunikasi baru. Komunikasi telepon pertama kali dilakukan oleh Alexander Graham Bell dan asistennya Watson pada 10 Maret 1876. Penemuan telepon dan telegraph telah menciptakan komunikasi dengan perantara mesin (Machine-Assisted Communication). Pola komunikasi ini membuat komunikasi interpesonal dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka. Malin Kundang (di Pulau Sumatera) dapat berinteraksi dengan Kabayan (Jawa Barat) melalui telepon. Kemudian disusul lagi dengan penemuan radio, televisi, music recording, film. Media massa menjadi beragam.

Satu revolusi lagi tercipta pada saat mulai digunakannya internet pada ranah publik. Internet -yang sebelumnya bernama ARPANet- pada awal mulanya tidak ditujukan untuk penggunaan secara umum. Internet hanyalah sebuan jaringan komunikasi yang dapat mempermudah komunikasi antara ilmuwan di Departemen Pertahanan Amerika Serikat dengan Pemerintah Pusat. Sungguh pemikiran yang revolusioner.

Internet terus berkembang dan semakin variatif. Berbagai fitur baru bermunculan; www, search engine, chatting, email, blog, e-commerce, e-learning, Youtube, sampai pada media social (myspace, facebook, twitter) yang kini sedang digemari. Banyak sekali faktor yang membuat internet ini semakin digandrungi dan menjadi media kontemporer. Kemajuan di bidang sangat mempengaruhi perkembangan internet. Para Jenius di Sillicon Valley lah yang setidaknya mendongkrak perkembangan internet.

Entah sudah berapa juta alamat website di internet, berapa juta informasi tersedia, berapa juta email yang setiap hari terkirim, berapa juta video yang diunggah di Youtube. Internet semakin crowded. Bahkan teknologi IPv4 pun sudah tidak sanggup menampung ratusan juta lalu-lintas internet dan harus dialihkan ke IPv6.

Media social tentunya menjadi suatu tren tersendiri. Friendster, MySpace, Facebok, Twitter, FourSquare dll menjadi magnet bagi masyarakat untuk ikut menjadi pengguna aktif internet. Hari ini nampaknya agak kurang gaul kalau belum memiliki satu akun media social. Saya sendiri mau tidak mau harus menuruti tren dengan memiliki akun di lebih dari satu media social.

Bahkan beberapa fenomena pun tercipta akibat bantuan dari media social. Sebut saja aksi pengumpulan koin Prita, Bibit-Chandra dan beberapa kasus lainnya. Sisi negatifnya pun ada, penculikan anak, ketagihan (addiction), blind date yang kerap kali berujung pada perkosaan dll.

Perkembangan teknologi komunikasi ini tentunya tidak akan berhenti pada media social. Gutenberg, Bell, Morse, Marconi, Page-Bin, Jack Dorsey dan Zuckenberg merupakan nama-nama para pencipta tren komunikasi tersebut. Entah akan ada kejuta apa lagi dalam perkembangan teknologi komunikasi, dan saya harap seh akan muncul nama orang Indonesia.... Yaah...kita tunggu aja beberapa tahun ke depan


Bahan Bacaan:
Baran and Davis. 2009. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment and Future. Sixth Edition. USA: Wadsworth
Paxson, Peyton. 2010. Mass Communication and Media Studies: An Introduction. New York: Continuum International Publishing Book







Senin, 09 Januari 2012

Empat Teori Pers


Pendahuluan
Pers selalu mengambil bentuk dan warna struktur-struktur social politik di dalam mana ia beroperasi. Terutama, pers mencerminkan system pengawasan social dengan mana hubungan antara orang dan lembaga diatur. Orang harus melihat pada system-sistem masyarakat dimana per situ berfungsi. Untuk melihat system-sistem social dalam kaitan yang sesungguhnya dengan pers, orang harus melihat keyakian dan asumsi dasar yang dimiliki masyarakat itu : hakikat manusia, hakikat masyarakat dan Negara, hubungan antar manusia dengan Negara, hakikat pengetahuan dan kebenaran. Jadi pada akhirnya perbedaan pada system pers adalah perbedaan filsafat.

Teori Pers Otoritarian
Muncul pada masa iklim otoritarian di akhir Renaisans, segera setelah ditemukannya mesin cetak. Dalam masyarakat seperti itu, kebenaran dianggap bukanlah hasil dari masa rakyat, tetapi dari sekelompok kecil orang –orang bijak yang berkedudukan membimbing dan mengarahkan pengikut-pengikut mereka. Jadi kebenaran dianggap harus diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan. Dengan demikian pers difungsikan dari atas ke bawah. Penguasa-penguasa waktu itu menggunakan pers untuk memberi informasi kepada rakyat tentang kebijakan-kebijakan penguasa yang harus didukung.
Hanya dengan ijin khusus pers boleh dimiliki oleh swasta, dan ijin ini dapat dicabut kapan saja terlihat tanggungjawab mendukung kebijaksanaan pekerjaan tidak dilaksanakan. Kegiatan penerbitan dengan demikian merupakan semacam persetujuan antara pemegang kekuasaan dengan penerbit, dimana pertama memberikan sebuah hak monopoli dan ang terakhir memberikan dukungan. Tetapi pemegang kekuasaan mempunyai hak untuk membuat dan merubah kebijaksanaan, hak memberi ijin dan kadang-kadang menyensor. Jelas bahwa konsep pers seperti ini menghilangkan fungsi pers sebagai pengawas pelaksanaan pemerintahan. Praktek-praktek otoritarian masih ditemukan di seluruh bagian dunia walalupun telah ada dipakai teori lain, dalam ucapan kalaupun tidak dalam perbuatan, oleh sebagian besar Negara komunis.



Teori Pers Libertarian
Teori ini memutarbalikkan posisi manusia dan Negara sebagaimana yang dianggap oleh teori Otoritarian. Manusia tidak lagi dianggap sebagai mahluk berakal yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, antara alternative yang lebih baik dengan yang lebih buruk, jika dihadapkan pada bukti-bukti yang bertentangan dengan pilihan-pilihan alternative. Kebenaran tidak lagi dianggap sebagai milik penguasa. Melainkan, hak mencari kebenaran adalah salah satu hak asasi manusia. Pers dianggap sebagai mitra dalam mencari kebenaran.
Dalam teori Libertarian, pers bukan instrument pemerintah, melainkan sebuah alat untuk menyajikan bukti dan argument-argumen yang akan menjadi landasan bagi orang banyak untuk mengawasi pemerintahan dan menentukan sikap terhadap kebijaksanaannya. Dengan demikian, pers seharusnya bebas sari pengawasan dan pengaruh pemerintah. Agar kebenaran bisa muncul, semua pendapat harus dapat kesempatan yang sama untuk didengar, harus ada pasar bebas pemikiran-pemikiran dan informasi. Baik kaum minoritas maupun mayoritas, kuat maupun lemah, harus dapat menggunakan pers.
Sebagian besar Negara non komunis, paling tidak di bibir saja, telah menerima teori pers Libertarian. Tetapi pada abad ini telah ada aliran-aliran perubahan. Aliran ini berbentuk sebuah Otoritarianisme baru di Negara-negara komunis dan sebuah kecenderungan kearah Liberitarianisme baru di Negara-negara non komunis.

Teori Pers Tanggungjawab Sosial
Teori ini diberlakukan sedemikian rupa oleh beberapa sebagian pers. Teori Tanggungjawab social punya asumsi utama : bahwa kebebasan, mengandung didalamnya suatu tanggung jawab yang sepadan; dan pers yang telah menikmati kedudukan terhormat dalam pemerintahan Amerika Serikat, harus bertanggungjawab kepada masyarakat dalam menjalankan fungsi-fungsi penting komunikasi massa dalam masyarakat modern.
Asal saja pers tau tanggungjawabnya dan menjadikan itu landasan kebijaksanaan operasional mereka, maka system libertarian akan dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Jika pers tidak mau menerima tanggungjawabnya, maka harus ada badan lain dalam masyarakat yang menjalankan fungsi komunikasi massa.
Pada dasarnya fungsi pers dibawah teori tanggungjawab social sama dengan fungsi pers dalam teori Libertarian. Digambarkan ada enam tugas pers :
1.        Melayani sistem politik dengan menyediakan informasi, diskusi dan perdebatan tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
2.        Memberi penerangan kepada masyarakat, sedemikian rupa sehingga masyarakat dapat mengatur dirinya sendiri.
3.        Menjadi penjaga hak-hak perorangan dengan bertindak sebagai anjing penjaga yang mengawasi pemerintah.
4.        Melayani system ekonomi dengan mempertemukan pembeli dan penjual barang atau jasa melalui medium periklanan,
5.        Menyediakan hiburan
6.        mengusahakan sendiri biaya financial, demikian rupa sehingga bebas dari tekanan-tekanan orang yang punya kepentingan.

Teori Pers Soviet Komunis
Dalam teori Soviet, kekuasaan itu bersifat sosial, berada di orang-orang, sembunyi di lembaga-lembaga sosial dan dipancarkan dalam tindakan-tindakan masyarakat. Kekuasaan itu mencapai puncaknya (a) jika digabungkan dengan semberdaya alam dan kemudahan produksi dan distribusi , dan (b) jika ia diorganisir dan diarahkan. Partai Komunis memiliki kekuatan organisasi ini. partai tidak hanya menylipkan dirinya sendiri ke posisi pemimpin massa; dalam pengertian yang sesungguhnya, Partai menciptakan massa dengan mengorganisirnya dengan membentuk organ-organ akses dan kontrol yang merubah sebuah populasi tersebar menjadi sebuah sumber kekuatan yang termobilisir. Partai mengganggap dirinya sebagai suatu staf umum bagi masa pekerja. Menjadi doktrin dasar, mata dan telinga bagi massa.
Negara Soviet bergerak dengan program-program paksaan dan bujukan yang simultan dan terkoordinir. Pembujukan adalah tanggungjawabnya para agitator, propagandis dan media. Komunikasi massa digunakan secara instrumental, yaitu sebagai instrumen negara dan partai. Komunikasi massa secara erat terintegrasi dengan instrumen-instrumen lainnya dari kekuasaan negara dan pengaruh partai.
Komunikasi massa digunakan untuk instrumen persatuan di dalam negara dan di dalam partai. Komunikasi massa hampir secara ekslusif digunakan sebagai instrumen propaganda dan agitasi. Komunikasi massa ini punya ciri adanya tanggungjawab yang dipaksakan.